islam di mesir

Perkembangan Pembaruan Islam Abad Modern di Mesir

Posted on

Islam abad modern menurut ahli sejarah terjadi mulai tahun 1800 Masehi hingga sekarang. Masa ini disebut juga masa pembaruan karena umat Islam menyadari dan tergerak untuk melepaskan diri dari keterpurukan setelah tenggelam cukup lama. Peristiwa apa saja yang terjadi pada masa pembaruan tersebut? Simaklah uraian berikut

islam di mesir

Perkembangan Pembaruan Islam di Mesir

Perkembangan pembaruan di Mesir pertama kali dipelopori oleh Muhammad Ali Pasha. Muhammad Ali Pasha adalah seorang perwira Turki yang ditugaskan untuk melawan Prancis yang pada saat itu menguasai Mesir. Berkat keberaniannya di medan pertempuran, Muhammad Ali Pasha diangkat menjadi kolonel. Ketika Prancis berhasil diusir dari Mesir, Muhammad Ali mengukuhkan diri sebagai pasha baru.

Muhammad Ali Pasha seorang yang buta huruf. Meskipun demikian, ia memiliki perhatian cukup besar terhadap ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dalam kemajuan suatu negara.

muhammad ali pashaPemikiran Muhammad Ali Pasha tersebut diwujudkan dengan membentuk kementerian pendidikan pada saat ia memerintah. Usaha ini dilakukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan pendidikan rakyat Mesir.

Selain membentuk Kementerian Pendidikan, Muhammad Ali Pasha mendirikan sekolah untuk mendukung ide pembaruan yang diusungnya. Muhammad Ali Pasha mendirikan sekolah militer (tahun 1815 M) di Mesir. Selain itu„ sekolah teknik (tahun 1827 M), sekolah obat-obatan atau apoteker (tahun 1829 M), sekolah pertambangan (tahun 1834 M), sekolah pertanian (tahun 1936 M), dan sekolah penerjemahan (tahun 1836 M) didirikan untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan di Mesir. Para pengajar di sekolah-sekolah tersebut didatangkan langsung dari Eropa oleh Muhammad Ali Pasha.

Upaya lain yang dilakukan Muhammad Ali Pasha adalah mengirim para siswa Mesir untuk belajar di Barat. Melalui cara tersebut, Muhammad Ali Pasha berharap ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan pesat dan membawa kemajuan bagi negara. Melalui siswa yang belajar ke Barat, rakyat Mesir bersentuhan dengan ide-ide Barat. Pada awalnya ide-ide Barat hanya terbataspada siswa yang belajar ke Barat. Lambat laun ide-ide tersebut menjalar ke berbagai lapisan masyarakat Mesir melalui para pelajar yang kembali dari menuntut ilmu di Barat.

Tokoh lain yang berperan dalam pembaruan di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan adalah Rifaah Badawi Rafi’ at-Tahtawi. At-Tahtawi merupakan pemikir yang cerdas dan menguasai ilmu-ilmu Barat. la berhasil menerjemahkan berbagai karya berbahasa Prancis dalam bahasa Arab, la menerjemahkan banyak karya Barat dalam bahasa Arab. Penerjemahan ini dilakukan agar umat Islam mengetahui ilmu-ilmu yang membawa kemajuan bagi bangsa Barat. Dengan demikian, umat Islam terdorong untuk memajukan negaranya. Setelah menjadi kepala sekolah penerjemahan yang selanjutnya berganti nama menjadi sekolah bahasa-bahasa asing, kiprah at-Tahtawi semakin terlihat. Lebih dari seribu karya berhasil diterjemahkan oleh murid-murid di sekolah tersebut dalam bahasa Arab.

Selain sebagai penerjemah, at-Tahtawi merupakan pimpinan majalah al-Waqai’al-Misriyyah. Majalah ini didirikan oleh Muhammad Ali Pasha sebagai media untuk menyebarkan ide-ide pembaruan dan pemikiran- pemikiran Barat. At-Tahtawi memanfaatkan majalah ini untuk menyebarkan ide-ide Barat dengan menekankan bahwa paham-paham tersebut tidak berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Selain sebagai seorang penerjemah yang andal, at-Tahtawi berhasil menulis berbagai buku. Karya-karya at-Tahtawi yang berisi konsep pembaruan sebagai berikut.

  1. Takhlis Ibriz ‘Ala Talkhis Baris (Intisari dari Penjelasan tentang Paris).
  2. Manahij Babil Misriyyah fi Manahij Adabil Asriyyah (Jalan bagi Orang Mesir Menuju Sastra Modern).
  3. Al-Mursyidal-Amin Lial-Banat wa al-Banin (Petunjuk Pendidikan Putra dan Putri).
  4. Al-Qaulus Sadid fial-ljtihad wa at-Taqlid(Pendapat Besar tentang Ijtihad dan Taqlid).

At-Tahtawi berpendapat bahwa berpegang teguh pada agama dan budi pekerti yang baik akan mendorong seseorang menuju kesejahteraan. Agar seseorang memiliki budi pekerti yang baik diperlukan adanya pendidikan. Pendidikan harus diperoleh baik anak laki-laki maupun perempuan. Para perempuan atau ibu rumah tangga juga harus memperoleh pendidikan agar dapat menjadi istri yang baik dan dapat mendidik anak-anaknya dengan baik pula.


Nama Muhammmad Abduh juga tercatat dalam pembaruan di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan. la memiliki nama lengkap Muhammad Abduh bin Hassan Khairullah yang lahir di Mesir pada tahun 1265 H/1849 M.

Ayahnya bernama Abduh Khair, warga Mesir keturunan Turki, sedangkan ibunya seorang perempuan suku Arab yang nasabnya sampai pada Umar bin Khattab. Muhammad Abduh merupakan murid Jamaluddin al-Afgani. Muhammad Abduh memiliki gagasan untuk menyejahterakan umat Islam melalui ilmu pengetahuan dengan membuka sekolah-sekolah modern yang mengajarkan ilmu pengetahuan modern selain ilmu agama. Sistem pengajaran dan pelajaran yang ada di al-Azhar perlu diubah sehingga usaha-usaha pembaruan Islam dapat tercapai.

Muhammad Abduh juga mendirikan sekolah-sekolah pemerintah untuk mendidik tenaga-tenaga militer, kesehatan, administrasi, dan perindustrian. Dalam sekolah-sekolah tersebut juga dimasukkan pendidikan agama. Dengan memperkuat pendidikan agama di sekolah pemerintah dan memasukkan ilmu pengetahuan modern dalam madrasah diharapkan dapat mempersempit jurang pemisah antara kedua golongan ilmu pengetahuan.

Muhammad Abduh menyerukan ide-ide pembaruan dalam bidang akidah. la berpendapat bahwa penyebab kemunduran umat Islam karena paham jumud. Jumud berarti membeku, keadaan statis, dan tidak ada perubahan. Paham jumud itulah yang menyebabkan umat Islam enggan menerima perubahan. Selain bid’ah yang telah merusak ajaran Islam, paham-paham asing yang tidak sesuai dengan ajaran Islam juga dihentikan. Umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam murni yang bersumber kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw.

Tidak cukup hanya dengan pemumian ajaran Islam, penafsiran baru juga diperlukan oleh umat Islam. Oleh karena itu, Muhammad Abduh menyerukan umat Islam untuk berijtihad karena pintu ijtihad masih terbuka lebar. Ijtihad dilakukan berkaitan dengan soal muamalah yang ayat dan hadisnya bersifat umum dan jumlahnya sedikit. Muamalah adalah segala peraturan yang mengatur hubungan antara sesama manusia, baik seagama maupun berbeda agama, dan antarfnanusia dan alam sekitarnya. Salah seorang murid Muhammad Abduh, yaitu Rasyid Rida juga mengikuti ide-ide pembaruan. Pembaruan dalam bidang akidah dilakukan Rasyid Rida dengan menerbitkah majalah al-Manar. Menurutnya, bid’ah, tahayul, dan khurafat harus diberantas. Selain itu, Rasyid Rida melihat perlunya interpretasi atau penafsiran baru terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.

Rasyid Rida juga melakukan pembaruan di bidang pendidikan. Dalam pembaruan di bidang pendidikan Rasyid Rida memandang perlunya mata pelajaran teologi, sosiologi, sejarah, ilmu bumi, ilmu kesehatan, ilmu hitung, dan beberapa cabang ilmu lainnya untuk dimasukkan dalam kurikulum selain ilmu-ilmu agama. Pada tahun 1912 Rasyid Rida berhasil mendirikan Madrasah ad-Da’wah wa al-lrsyad. Lulusan sekolah ini dikirim ke berbagai negara Islam termasuk Indonesia yang memerlukan bantuan untuk menandingi misi kristenisasi.

Bidang politik tidak luput dari gerak pembaruan. Salah satu tokohnya adalah Jamaluddin al-Afgani. la lahir di Asadabad, Iran pada tahun 1838 Masehi dan wafat di Istanbul, Turki, pada tahun 1897 Masehi. Al-Afgani mengenyam banyak pendidikan di Afganistan.

Pada saat terjadi gejolak politik di Afganistan, al-Afgani pindah ke Mesir dan menetap di Kairo. Di Kairo al-Afgani memulai kiprah pembaruannya dengan mendirikan partai politik al-Hizb al-Watani (Partai Nasional). Melalui partai yang didirikannya, al-Afgani menyuarakan ide-ide pembaruannya dan mengajak rakyat Mesir untuk bangkit dari keterpurukan. la mempropagandakan slogan ’’Mesir untuk orang Mesir”.

Al-Hizb al-Watani memiliki tujuan memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaan pers, dan memasukkan unsur-unsur Mesir dalam posisi militer. Al-Afgani memiliki keyakinan bahwa Islam sesuai untuk semua bangsa, zaman, dan keadaan. Keyakinan tersebutyang mendorongnya untuk menyuarakan dan melakukan pembaruan. Jika terdapat pertentangan ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis dengan keadaan dan perubahan zaman, umat Islam tidak boleh meninggalkan Al-Qur’an dan hadis. Umat Islam harus meng- adakan interpretasi baru terhadap teks Al-Qur’an dan sunah. Oleh karena itu, diperlukan ijtihad agar semua permasalahan umat Islam diselesaikan berdasar Al-Qur’an dan hadis.

Menurut al-Afgani, kemunduran yang dialami oleh umat Islam bukan disebabkan oleh ajaran Islam. Umat Islam telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya dan mengikuti ajaran-ajaran yang berasal dari luar Islam. Menurutnya, qada dan qadar seharusnya menjadi pemicu umat Islam untuk aktif dan dinamis. Kemunduran dalam bidang politik disebabkan oleh pudarnya persatuan dan kesatuan. Al-Afgani berpendapat bahwa persatuan dan kesatuan umat Islam harus dipererat. Pemerintahan yang bercorak autokrasi harus diubah menjadi pemerintahan berdasarkan demokrasi. Menurut al-Afgani, Islam menghendaki pemerintahan yang memberi kebebasan pada rakyat untuk mengeluarkan pendapat. Baginya hal yang terpenting adalah mempererat persatuan dan kesatuan agar umat Islam mencapai kemajuan. Ide-ide pembaruan yang dikumandangkan oleh al-Afgani pada akhirnya berubah menjadi gerakan yang dikenal oengan nama Gerakan Pan Islamisme.

Setelah tinggal beberapa lama di Mesir, al-Afgani pindah ke Prancis. Di Prancis ia mendirikan perkumpulan yang terdiri atas pelajar dan intelektual dari India, Mesir, dan beberapa negara lainnya. Perkumpulan ini diberi nama al-Urwah al-Wusqa.Tu\uan mendirikan perkumpulan ini adalah menjalin persaudaraan Islam di antara kaum muslimin sedunia dan membawa umat Islam pada kemajuan. Perkumpulan yang didirikan al-Afgani ini menerbitkan majalah dan diberi nama yang sama dengan perkumpulannya, yaitu al-Urwah al-Wusqa. Melalui majalah ini, pemikiran-pemikiran al-Afgani tersebar luas.

Ide-ide al-Afgani ditransformasikan kepada murid sekaligus sahabatnya, yaitu Muhammad Abduh. Melalui Muhammad Abduh, pemikiran dan ide-ide pembaruan al-Afgani menjadi lebih jelas dan dapat dengan mudah dipahami masyarakat. Pada masa berikutnya, ide-ide pembaruan al-Afgani memberi inspirasi bagi para cendekiawan muslim. Para pemikir muslim mengembangkan ide-ide pembaruan al-Afgani untuk menemukan solusi terbaik bagi kebangkitan dan kemajuan umat Islam. Dalam bidang ketatanegaraan Muhammad Abduh berpendapat bahwa kekuasaan negara harus dibatasi. Menurutnya, pemerintah harus bertindak adil terhadap rakyat. Sebaliknya, rakyat harus patuh dan setia pada pemerintah.

Demikian penjelasan yang bisa kami sampaikan tentang Perkembangan Pembaruan Islam Abad Modern di Mesir. Semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca dan bisa dijadikan sumber literatur untuk mengerjakan tugas. Sampai jumpa pada postingan selanjutnya.


Baca postingan selanjutnya:

Perkembangan Pembaruan Islam Abad Modern di India dan Pakistan

Perkembangan Pembaruan Islam Abad Modern di Turki

Perkembangan Pembaruan Islam Abad Modern di Hejaz (Arab Saudi)

Persiapan Dan Tatacara Ceramah Dalam Tablig Dan Dakwah

Pengertian Serta Pentingnya Tablig Dan Dakwah Dalam Umat Beragama Islam

Persiapan dan Praktik Yang dilakukan Pada Khotbah Shalat Jumat